Thursday, August 21, 2014
   
Text Size

Dr. Abdul Muis S.T., M.Eng

Mengembangkan Robot untuk Indonesia

Dr. Abdul Muis S.T., M.Eng adalah seorang Dosen dan Peneliti di Departeman Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Saat ini, dosen yang memang hobi dengan bidang robot ini sedang mengembangkan “Robot Pencari Korban Gempa”.

Saat ditemui di ruang kerjanya, dosen kelahiran 1 September 1975 ini tidak segan-segan menceritakan pengalaman hidupnya kepada Tim www.engineeringtown.com. Yuk, simak wawancara kami bersama Dr. Abdul Muis S.T., M.Eng berikut ini beberapa waktu yang lalu.

Tim engineeringtown.com : Bisa diceritakan tentang sekelumit latar belakang kehidupan Bapak seperti riwayat pendidikan atau pengalaman masa kecil lainnya ?

Dr. Abdul Muis : Panjang ceritanya. Waktu SMP kami diharuskan memiilih salah satu bidang keterampilan (mengetik, elektronik, menjahit). Karena harus memilih salah satu, maka saya pilih elektronik. Mulai tertarik dengan elektronik misalnya dengan membuat rangkaian-rangkaian. Kemudian mulai kelas 3 SMP tahun 1989, muncul komputer yang PC – XT. Sekarang pentium sudah sangat cepat, kalau dulu PC – XT itu komputer desktop yang baru pertama kali dijual untuk umum. Saya mulai tertarik ke komputer berawal dari sana dan mencoba membuat program sendiri dengan bahasa basic. Dulu saya tidak tahu lahir hari apa. Berbekal dengan perhitungan tahun kabisat, akhirnya saya bisa menghitung hari apa saya dilahirkan

Menjelang lulus SMA, saya harus memilih bidang pendidikan selanjutnya. Sebetulnya saya tertarik ke programming (komputer) walaupun saya juga senang elektronik. Tetapi ayah saya inginnya saya mendalami elektro. Sedangkan saya inginnya masuk ke jurusan komputer. Disisi lain, ibu saya tidak ingin sekolah jauh, maklum anak pertama. Selanjutnya saat UMPTN saya pilih informatika ITB dan elektro UI, setidaknya ada pilihan yang menyenangkan kedua orang tua. Seiiring dengan berjalannya waktu, rupanya saat UMPTN saya salah lokasi walau sehari sebelumnya sudah survey. Hari pertama saya di oper-oper oleh panitia UMTPN. Akhirnya saya ditempatkan ditempatkan di meja guru disamping tumpukan tas – tas peserta ujian. Hari kedua ada lagi masalah, sepanjang ujian sakit perut. Alhamdulillah akhirnya saya diterima di teknik elektro UI. Dari sini saya menyadari pentingnya peran doa orangtua. Bukan hanya diterima UMPTN, keinginan kedua orang tua saya terpenuhi; bidang elektro dan tidak jauh dari orang tua.

Masuk teknik elektro UI, saya mengambil konsentrasi kendali/control karena bidang ini banyak programming – nya sesuai dengan hobi saya. Tahun 2001 saya dapat kesempatan beasiswa S2 ke Jepang. Kemudian S3 juga meneruskan di Jepang. Di sana bidangnya kebetulan mekatronika, gabungan dari tiga disiplin ilmu yaitu mekanik, elektronik dan komputer. Sebenarnya mekatronika sendiri sekarang terdiri dari empat bidang ilmu yaitu mekanik, elektronik, komputer dan control. Karena kalau kita membuat sesuatu yang sifatnya mekanik dan elektronik atau robot, kita tidak bisa mengandalkan satu bidang ilmu. Misalnya kita ingin membuat mobil, mekaniknya bagus tetapi elektroniknya tidak bagus, maka hasilnya tidak akan sebagus jika kita memaksimalkan mekanik dan elektroniknya.

Apa saja yang pernah saya lakukan ? Selama saya mengambil S2, saya mengendalikan dua robot. Robot pertama menggunakan kamera untuk mengguide robot kedua dalam mendekati object, robot kedua dan obejct diberi tanda. Masing-masing robot dikendalikan oleh satu komputer (Computer Robot Controler). Adapun kamera, menggunakan komputer lain, yang terhubung lewat jaringan internet local/LAN.

Belakangan ini sedang membuat Robot Pencari Korban Gempa. Sebagaimana kita tahu gempa banyak di Indonesia. Termasuk yang kemarin di Hotel Ambacang, penyelamatan sampai tertunda beberapa jam gara-gara gedungnya tidak stabil. Penyelamatan ini beresiko tinggi, tim harus mencari ada tidaknya korban yang selamat walau membahayakan dirinya yang justru dapat menambah korban jiwa dari tim penyelamat. Tujuan dibuatnya robot ini adalah untuk membantu tim penyelamat mencari tahu masih adakah korban hidup di dalam reruntuhan.

Robot Pencari Korban Gempa (robot SAR) seringkali dihadapkan pada dua permasalahan. Pertama robot SAR harus memiliki mekanisme untuk bergerak di atas reruntuhan. Mekanisme yang sering digunakan robot bisa berupa roda, track, ataupun kaki. Untuk memudahkan mobilitas robot SAR ini, robot dilengkapi dengan empat kaki yang memiliki 3 DOF/sendi. Selain itu salah satu bagian setiap kakinya diberi track agar dapat cepat melaju. Permasalahan kedua adalah keterbatasan gerak. Medan yang akan dihadapi robot SAR tidak selalu sama. Sebagaimana saat kita melangkah, selalu akan ditemui hal-hal baru. Misalkan saat naik tangga, tidak semua tangga sama curamnya atau sama tingginya. Sebagaimana saat kita melangkah diatas batu-batu diatas sungai dangkal, ada kalanya kita harus sedikit melompat dan kadang kita terperosok jatuh. Begitupula dengan robot SAR, medan yang akan dihadapi tidak menentu, sedangkan gerakan robot umumnya telah diprogram. Sebanyak apapun kita telah memberikan kombinasi gerakan pada robot, seringkali tidak mencukupi jika ditemui kondisi yang baru. Untuk itu, kami mengembangkan teknologi Haptic untuk diterapkan pada robot SAR yang dikendalikan oleh operator. Dengan teknologi Haptic ini maka gerakan robot tidak dibatasi program, dimana gerakan robot dipandu oleh robot master (bukan joystick) yang digerakan oleh operator. Selain memandu gerakan robot SAR, teknologi haptic memungkinan operator dapat merasakan sentuhan yang dialami robot SAR. Sehingga operator dapat mengendalikan robot SAR seolah-olah robot SAR adalah tangannya sendiri.

Tim engineeringtown.com : Dalam mengerjakan robot ini, Bapak melakukannya sendiri atau dengan tim ?

Dr. Abdul Muis : Kemarin – kemarin sih ada seorang mahasiswa saya yang membatu membuat prototipe pertama. Adapun prototype yang ke dua mahasiswa yang membantu saya hanya membuat control motornya saja. Tetapi untuk mekanikanya masih terpaksa saya yang musti mengerjakan sendiri. Sampai saat ini masih dalam tahap penyelesaian.

Tim engineeringtown.com : Kapan Bapak mulai mengerjakannya ?

Dr. Abdul Muis : Robot ini mulai dikerjakan sejak Februari lalu saat mulai mendapat suntikan dana Toray. Sebelum bisa diterapkan pada robot SAR, pertama – tama kami membuat prototype pertama robot SAR. Disisi lain, kami juga sudah mencoba teknologi haptic pada satu lengan dengan 3DOF. Selanjutnya saat ini kami sedang merampungkan prototype kedua yang terintegrasi.

Beberapa penelitian yang pernah saya kerjakan adalah Swarm Robot for Fire Detection, Quad Rotor Helicopter, Haptic Tele - operation with Servo Motor, dan masih banyak lagi. (bisa dilihat di http://www.ee.ui.ac.id/aconics / )

Tim engineeringtown.com : Kenapa Bapak berminat dibidang robot ?

Dr. Abdul Muis : Karena ketika S1, S2, dan S3 saya sudah mengerjakan robot. Dan kalau kita ingin menuju professor, kita tidak akan diakui kalau yang kita teliti di luar bidang kita. Harus sesuai dengan bidang ketika S3. Dan juga karena hobi saya membuat/mengendalikan robot. Kadang disaat pengerjaan, kita harus jempalitan putar otak kesana kemari agar bisa membuat robot bergerak sesuai keinginan kita. Namun saat selesai, biasanya rasa lelah akan terhapus oleh rasa senang telah berhasilnya karya yang telah kita buat.

Tim engineeringtown.com : Kalau boleh tahu, apa obsesi/cita – cita  terbesar Bapak ?

Dr. Abdul Muis : Saya ingin sekali membuat robot yang bermanfaat dan dapat terjangkau baik dari sisi bahan dan biaya. Untuk membuat robot secanggih Asimo/Honda, Sony masih jauh dari prioritas saya. Untuk membuat robot secanggih itu, diperlukan dukungan perangkat mekanik, elektronik yang tidak bisa kita produksi sendiri, selain itu butuh tenaga peneliti yang cukup banyak disertai dana yang melimpah. Biaya sewa robot Asimo senilai 200juta rupiah per hari, tentu bisa kita bayangkan berapa harga pembuatannya. Begitupula saat saya studi di Jepang, saya menggunakan perangkat berpresisi dan berkualitas tinggi. Sepulangnya di Indonesia, sangatlah sulit untuk mendapatkan perangkat-perangkat tersebut. Karenanya, saya termotivasi untuk membuat robot yang perangkat-perangkatnya dapat terbeli dan tersedia dipasaran. Walaupun dari sisi hasil mungkin jauh dari sempurna, namun jika kita dapat membuat robot dengan kemampuan yang mirip berbiaya rendah, akan menjadi nilai tambah.

Tim engineeringtown.com : Adakah pesan/motivasi untuk para remaja agar bisa sukses seperti Bapak ?

Dr. Abdul Muis : Saya melihat kecenderungan mahasiswa – mahasiswa sekarang kurang inovasi dan motivasi, terutama yang di daerah Jakarta. Kalau zaman saya, ketika dosen memberikan tugas maka kita akan mati-matian mencari bahan ke sana – sini. Beberapa tahun terakhir saya mengamati mahasiswa saya yang diberi tugas, setelah seminggu atau dua minggu hanya bisa menjawab “Pak gak bisa, Pak belum kelar, Pak gak tau caranya”. Intinya adalah, kalau kita ingin mencapai sesuatu, kita harus berusaha semaksimal mungkin. Karena pertolongan itu tidak akan datang kalau kita tidak berusaha maksimal. Artinya kalau kita berusaha keras untuk mencapai sesuatu yang dituju, pasti Allah akan memberikan jalan. Kalau kita tidak berusaha, maka tidak akan mendapatkan pertolongan. Jangan biarkan diri kita gampang menyerah. Kalau kita mau bekerja keras, kita akan mendapatkan hasilnya.

Dr. Abdul Muis S.T., M.Eng
Penghargaan :

2001 – 2004 : Beasiswa – Keio University Scholarship, Japan

2004 – 2007 : Beasiswa – The Hitachi Scholarship Foundation, Japan

Maret 2006 : Excellent Paper Award Committee of the 21st Century COE Program “Optical and Electronic Device Technology for Access Network”

Foto : ET
Penulis : Indah Sari Dewi

 

Share/Save/Bookmark

Comments  

 
0 #1 Iccank Devilz 2012-01-12 12:46
mantap..!!

salam sesama pecinta robot..!!
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh