Friday, August 01, 2014
   
Text Size

Prof. Dr. Ir. Eko Tjipto, M.Sc

Professor Antena Pertama di Indonesia

Prof. Dr. Ir. Eko Tjipto M.Sc merupakan Guru Besar di Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Beliau adalah seorang pakar di bidang antena dan merupakan professor antena pertama di Indonesia. Bagaimanakah awal mulanya hingga beliau terjun ke bidang antenna ? Yuk, kita simak wawancara Tim www.engineeringtown.com  bersama Prof. Eko Tjipto beberapa waktu yang lalu.

Tim engineeringtown.com : Bisa diceritakan tentang sekelumit riwayat pengalaman hidup Bapak ?

Prof. Eko Tjipto : Saya sendiri dulunya berasal dari pelosok, bukan dari Jakarta. SD sampai SMP saya di daerah, di tengah hutan jati. SMA saya di Semarang dan setelah lulus SMA dan diterima di Departemen Teknik Elektro UI, saya pindah ke Jakarta sampai sekarang. Dari dulu saya memang bercita-cita ingin menjadi insinyur. Tapi dulu di desa masih belum tahu mau jadi insinyur apa, pokoknya jadi insinyur. Karena dulu di pelosok belum ada listrik, saya jadi ingin menjadi Insinyur elektro. Yang menarik dulu waktu masih kecil, ayah saya kalau malam hari harus bersusah payah memompa lampu petromak. Kemuadian waktu pindah ke suatu tempat, ternyata di sana ada listriknya. Hanya tinggal di “cetek”, langsung nyala. Akhirnya saya ingin menjadi Insinyur Listrik agar bisa mengembangkan sesuatu yang berkaitan dengan listrik.

Keinginan tersebut tetap terjaga pada diri saya hingga SMA dan pada akhirnya selepas SMA saya memilih jurusan teknik elektro. Setelah lulus dan menjadi sarjana di teknik elektro, saya berfikir kiprah apa yang akan saya lakukan ?. Kemudian saya memilih untuk menjadi seorang peneliti di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Saya kemudian mengambil Master di Amerika Serikat dan setelah lulus kembali lagi ke Indonesia. Kemudian saya melanjutkan S3 di Jepang, dan bidang yang saya pilih adalah teknik antena.

Mengapa saya memilih teknik antenna ? Memang dalam memilih pilihan bidang itu bisa bermacam-macam. Mungkin ketika S1 sudah dimotivasi oleh dosen pembimbing saya, kalau kita mengerjakan sesuatu harus betul – betul kita tekuni. Tidak usah terlalu perhatian dengan apa yang dikatakan orang lain. Apa yang ada di diri kamu, itulah yang harus dikembangkan lebih lanjut. Ikutilah kata hati. Nah, seperti itulah kira – kira yang saya lakukan.

Pilihan bidang antena itu bukanlah suatu pilihan yang baik, karena jarang ada orang yang mau memilih bidang itu. Ketika itu orang – orang lebih senang memilih bidang yang cepat mendapatkan pekerjaan seperti di perusahaan minyak atau di perusahaan yang bisa mendapatkan gaji yang besar. Tetapi saya sendiri tidak berfikiran ke arah sana. Dan Alhamdulillah akhirnya saya menjadi dosen.

Setelah saya mendapatkan gelar master, saya kembali ke Indonesia dan menikah. Kemudian saya meneruskan kembali bidang yang saya tekuni sebelumnya yaitu antena. Saya tidak mau melakukan sesuatu hal yang terlalu luas sehingga mungkin untuk membagi waktu akan memecah perhatian. Jadi kita tidak bisa berkonsentrasi.

Setelah itu saya melanjutkan S3 di Jepang dan lebih spesifik ke bidang antena. Dari sinilah terbuka peluang untuk menjadi guru besar. Pertama, untuk menjadi professor itu harus banyak melakukan penelitian. Kedua, harus melakukan publikasi ilmiah. Nah, ini yang jadi menarik, di Jepang ketika kita melakukan studi S3 kita dipacu untuk mempublikasikan hasil riset kita dan di kampus pun diwajibkan. Pada saat itu untuk menjadi seorang Doktor, di tempat – tempat lain seperti Amerika Serikat dan Eropa publikasi ilmiah belum menjadi suatu kewajiban. Kemudian setelah menjadi Doktor, barulah mereka diwajibkan untuk mempublikasikannya. namun sekarang, dimana – mana publikasi ilmiah sudah diwajibkan.

Kembali dari Jepang kita mulai diarahkan untuk membentuk suatu grup – grup penelitian. Karena pada waktu (sekitar tahun 1996/1997) itu Doktor masih jarang dan kebetulan skema-skema pendanaan penelitian dari pemerintah semakin banyak. Untuk memulai sesuatu biasanya kita perlu suatu “apa yang bisa kita tonjolkan atau membuat orang lain tahu bahwasanya kita bisa melakukan sesuatu”. Kita datang kan belum punya apa-apa kecuali hasil disertasi. Nah, itu yang menjadi modal saya untuk melakukan penelitian. Dengan itulah saya melakukan penelitian di bidang antena yang pada akhirnya menjadikan saya sebagai professor antena pertama di Indonesia. Di Indonesia, professor antena baru ada tiga orang.

Pada tahun 2004 – 2008 saya diminta untuk menjadi ketua Departemen Teknik Elektro. Tahun 2005 saya diangkat menjadi guru besar yang artinya memang apa yang sudah saya lakukan selama ini telah memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Cita – cita yang saya inginkan sudah saya dapatkan. Tapi bukan berarti setelah menjadi guru besar, selesai. Menurut saya, setiap kali pencapaian itu adalah pintu untuk ke depan selanjutnya. Jika sudah mencapai sesuatu, itu sebagai langkah untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi ladi dan seterusnya. Bukan terus puas dan berdiam diri. Dan dengan hasil yang telah dicapai tersebut, saya membangun networking dari seminar-seminar hasil penelitian yang saya lakukan. Kemudian saya juga diminta menjadi pembicara kunci atau pembicara tamu dibeberapa seminar internasional maupun nasional. Paling tidak menunjukkan kalau kita mulai dikenal.

Saya juga membangun suatu society untuk bidang ini di Indonesia. Meskipun masih merupakan bagian dari society internasional IEEE. Kemudian di Indonesia saya juga mendirikan cabangnya. Dan dari situ saya bisa menjadi pembicara dalam beberapa konferensi internasional. Nah, dengan ini akan semakin member kepercayaan kepada kolega yang ada di luar negeri terhadap kemampuan kita di sini. Tapi setelah itu kita perlu juga membangun networking di dalam negeri. Contohnya adalah membantu di Menkominfo yaitu membantu untuk melakukan penelitian di Program Bantuan Pengembangan Produk Dalam Negeri seperti Wireless Communication untuk handphone.

Untuk orang ekonomi mungkin akan bilang akan lebih ekonomis jika beli saja dari luar negeri karena mungkin harganya lebih murah. tapi sebagai seorang teknolog, saya kira negara kita harus mampu untuk membuatnya. Apa semuanya harus beli ? Memang sih kalau membuat sendiri harganya akan lebih mahal tapi mempunyai kemampuan lebih, bukan hanya sekedar jualan. Kita sebagai suatu bangsa perlu ada suatu kemandirian terhadap teknologi. Apalagi untuk produk – produk strategis. Untuk pertahanan keamanan misalnya radar. Ini tentunya saya kira harus diarahkan oleh pemerintah.

Untuk para remaja, saya juga tidak tahu kenapa saya memilih bidang ini. Mungkin karena saya memang selalu agak berbeda dengan teman-teman seangkatan saya yang selalu mengikuti stream. Saya tidak selalu mengikuti stream. Saya melakukan apa yang saya inginkan saja. Jadi harus berani untuk tidak mengikuti stream.

Saya mengerjakan apa yang saya suka. Dan kadang-kadang kalau kita bisa memilih yang tidak dalam stream dan bisa melakukannya, kita bisa menjadi orang yang menonjol daripada kita berada di dalam stream. Kalau berada di stream, jika kita tidak menjadi orang yang hebat benar maka kita akan menjadi orang biasa yang di belakang.

Tim engineeringtown.com : Kalau boleh tahu, sudah berapa banyak inovasi teknologi yang telah Bapak hasilkan ?

Prof. Eko Tjipto : Saya kan bidangnya di antena, dan antena bisa digunakan di mana saja. Antena bisa dipakai disemua perangkat dan masing – masing mempunyai jenis antena yang berbeda untuk suatu sistem yang satu dengan sistem yang lain. Saya juga membantu di Menkominfo. Di handphone sendiri ada antena, kemudian kita harus mendesain jenis antena apa yang ada di handphone dan juga di BTS nya. Jadi masing – masih Hp sebelum berkomunikasi harus ada BTS. Yang lain juga untuk RMIT, bagian antena untuk radar bekerja sama dengan Belanda. Antena juga bisa dipakai untuk alat memonitor kesehatan. Antena untuk sensor mendeteksi suatu penyakit. Antena itu bisa dipakai bermacam-macam seperti komunikasi, radar, detaksi penyakit dan bisa juga sebagai sensor. jadi, inovasi teknologi yang saya lakukan ya terkait dengan itu saja.

Tim engineeringtown.com : Menurut pendapat Bapak, bagaimana perkembangan teknologi khususnya teknologi antena di Indonesia ?

Prof. Eko Tjipto : Salah satu perangkat radar itu antena. Kalau dibilang bisa, ya kita sudah bisa secara konsep dan prototype – nya. Tapi kalau industri kan persyaratannya banyak. Untuk antena, saya kira untuk produk BTS ada juga ya, selain itu untuk antena TV, parabola sudah banyak dan dibuat disini. Saya sedang mengaju dua paten untuk antena.

Perkembangan di Indonesia kalau secara industri, sebenarnya bisa namun terkendala bagaimana kita membuat suatu packaging yang bagus. Kalau dilihat, yang membuat berat untuk industri mandiri yaitu serangan dari produk China yang harganya lebih murah. Kita sendiri jadinya berat untuk menyaingi. Saya sendiri juga pernah untuk melakukan terobosan menggandeng industri. tapi sampai sekarang belum berjalan karena ya itu tadi, kita masih menjadi “orang jualan” bukan industrial. tapi sebetulnya kita mampulah, dan peran pemerintah juga sangat penting. Tapi secara konsep dan prototipe kita mampu.

Tim engineeringtown.com : Melihat kesibukan Bapak yang cukup padat, bagaimana kiat-kiat Bapak dalam manajemen waktu ?

Prof. Eko Tjipto : Saya kira kalau kuliah sudah ada jadwalnya atau sudah tetap. Penelitian biasanya sibuk di awal, bikin proposal, cari SDM yang bisa mendukung. Kita mengajak S1, S2, dan S3 sebagai tenaga pembantu peneliti dan mereka juga bisa menggunakannya untuk skripsi, thesis, dan disertasi. ya simbiosis mutualisme laah..

Foto : FTUI
Penulis : Indah Sari Dewi

 

Share/Save/Bookmark

Add comment


Security code
Refresh