Friday, August 29, 2014
   
Text Size

Prof. Dr. Ir. Mohammad Nasikin, M.Eng.

Guru Besar dengan Segudang Prestasi

Prof. Dr. Ir. Mohammad Nasikin, M.Eng. adalah pakar di bidang Rekayasa Reaksi Kimia dan Katalisis untuk sintesis produk baru, penanganan masalah lingkungan dan rekayasa bahan bakar alternatif. Guru besar yang mempunyai segudang prestasi ini telah berhasil membuktikan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia bisa menghasilkan suatu inovasi teknologi dan menjadikannya sebuah produk yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Di tengah – tengah kesibukannya di Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Prof. M. Nasikin bersedia meluangkan waktunya untuk berbagi mengenai pengalaman hidupnya. Simak yuk, wawancara Tim engineeringtown.com bersama Prof. M. Nasikin beberapa waktu yang lalu.

engineeringtown.com : Bisa diceritakan tentang sekelumit riwayat pengalaman hidup Bapak ?

Prof. M. Nasikin : Saya lahir tahun 1961. Saya mempunyai dua orang anak, mereka mendapatkan gelar sarjananya di Nanyang Technological University, Singapura dan sekarang sedang melanjutkan S2-nya di Jepang. Saya merasa beruntung karena tidak banyak membiayai kuliah mereka. Mulai dari SD sampai SMP mereka sudah mendapatkan beasiswa bahkan ketika kuliah di Singapura dan Jepang pun mereka mendapat beasiswa.

Saya mulai menjadi dosen pada tahun 1985. Tahun 1989 saya ke Tokyo, Jepang selama enam tahun dan kemudian kembali menjadi dosen di Indonesia. Tahun 2004 saya menjadi professor di Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Salah satu prestasi yang pernah saya raih adalah Juara I dosen berprestasi tingkat nasional pada tahun 2004. Saya juga menerima penghargaan Satya Lancana 20 tahun.

engineeringtown.com : Mengapa Bapak meminati bidang energy ?

Prof. M. Nasikin : Energi itu sesuatu yang dibutuhkan orang. Sebetulnya sekolah saya bukan tentang energi, melainkan bagaimana cara membuat energi, bagaimana cara membuat sesuatu. Saya berfikir, apa yang menarik untuk dibawa ke Indonesia ?. Lalu saya berfikir bahwa energi di Indonesia itu adalah sesuatu yang perlu mendapat perhatian. Kemudian saya “menyeburkan diri” di bidang energi, dan energinya itu kalau bisa kita buat dari sesuatu yang ada di Indonesia, energi yang bisa diperbaharui. Saya sudah mendapatkan dua paten di bidang energi dan saya juga mempunyai banyak riset yang telah menjadi paten. Salah satu paten saya sudah menjadi produk industri dan sudah dijual secara komersial.

engineeringtown.com : Kalau boleh tahu, sudah berapa banyak inovasi teknologi yang telah Bapak hasilkan ?

Prof. M. Nasikin : Inovasi banyak, tapi kita harus punya tolak ukur inovasi yang sudah bisa digunakan. Saya sudah punya enam paten dan paten yang sudah menjadi produk komersial ada satu. Kalau inovasi yang bentuknya riset banyak dan sebagian besar berhubungan dengan energi terbarukan, contohnya saya membuat bensin dan LPG dari minyak sawit. Inovasi tersebut sebetulnya kalau mau dilanjutkan akan menjadi sebuah pabrik., tapi untuk saat ini masih belum.

engineeringtown.com : Pernahkah terfikir untuk menggeluti bidang lainnya?

Prof. M. Nasikin : Ya. Saat ini saya sudah mulai melebarkan sayap dengan sesuatu yang lebih luas. Saya sekarang sedang menggandeng dunia kesehatan, dengan melakukan riset dengan orang-orang di bidang kedokteran dan biologi, yaitu tentang penyakit. Semua itu dilakukan dengan kemampuan teknik kimia yang saya miliki.

engineeringtown.com : Sebagai seorang dosen dan peneliti, bagaimana Bapak melihat bangsa kita ini dari sisi kemajuan bidang teknologi ?

Prof. M. Nasikin : Tidak ada satupun teknologi yang diciptakan bangsa Indonesia menjadi teknologi yang diproduksi. Mau membuat apapun, kita tidak punya teknologinya. Makanya saya sedih dan ingin membuktikannya. Ketika saya melakukan penelitian, saya ingin membuktikan bahwa orang Indonesia itu bisa menemukan sesuatu, bisa menjadi industri dan bisa menjadi produk komersial. Jika saja orang seperti saya itu banyak, mungkin Indonesia tidak akan ketergantungan, hanya menjadi bangsa pemakai. Saya telah memenangkan lebih dari 20 hibah dana penelitian sebagai peneliti utama, baik dari KNRT (RUT, RUK, Insentif), DIKTI (Penelitian dasar, Hibah Bersaing, Pekerti, Hibah Pasca), maupun lembaga Internasional (AIEJ, Osaka Gas) serta dari industri (Pertamina, Ditjen Migas) dan dari lingkungan UI (RUFT, RUUI).

engineeringtown.com : Menurut Bapak, apa masalah terbesar bangsa kita khususnya di bidang teknologi ? dan bagaimana cara mengatasinya ?

Prof. M. Nasikin : Masalah terbesarnya menurut saya adalah manajemen negara. Aturan main dari negara kita tidak mendukung. Sebagai contoh, di Singapura mahasiswa itu “dipaksa” selama satu semester untuk kerja praktik. Sedangkan di Indonesia hanya satu bulan. Kalau di Indonesia, mahasiswa mencari tempat kerja praktik itu sulit. Sedangkan di Singapura, perusahaan “dipaksa” oleh negara harus menerima mahasiswa dan akhirnya perusahaan di Singapura berebut untuk mencari mahasiswa yang akan kerja praktik.

Inovasi di Indonesia itu tidak nyambung antara setelah ditemukan sesuatu dan pengembangannya. Karena tidak ada jembatan antara hasil inovasi dengan pengembangan selanjutnya di dunia industri. Manajemen pengelolaan negara yang berpihak kepada inovasi teknologi yang masih belum pas. Saya sudah membuktikan betapa sulitnya mencari partner yang mau untuk memproduksi inovasi teknologi yang telah saya hasilkan.

engineeringtown.com : Kalau boleh tahu, apa rahasia sukses Bapak ? dan menurut Bapak, apa yang harus dilakukan remaja saat ini jika ingin sukses seperti Bapak ?

Prof. M. Nasikin : Saya sulit menjawabnya jika mengenai diri sendiri. Tapi saya menjawab dengan melihat anak – anak sekarang. Jawaban saya cuma satu, yaitu harus punya mimpi dan mimpinya harus gila. Bermimpilah ! dan mimpinya harus gila, karena kalau mimpinya tidak gila maka orang lain sudah bermimpi duluan. Harus punya impian dan harus konsisten. Coba lihat saja Korea Selatan yang merupakan salah satu negara yang bersamaan dengan Indonesia dalam mengembangkan mobil nasional. Sekarang, mobil – mobil buatan Korea Selatan sudah unggul, sedangkan Indonesia ?? tidak ada.

engineeringtown.com : Melihat kesibukan Bapak yang cukup padat, bagaimana kiat – kiat Bapak dalam manajemen waktu ?

Prof. M. Nasikin : Saya selalu berfikir bahwa tugas itu adalah sebagai amanah dan tidak pernah merasa terbebani. Saya juga mencoba mengkavling-kavlingkan otak saya untuk dibebani berbagai urusan atau tugas. Begitu satu urusan selesai, saya pindah kavling. Saya termasuk orang yang tepat waktu. Karena menurut saya, komitmen itu penting.

Prof. Dr. Ir. Mohammad Nasikin M.Eng.

·      Tempat/tanggal lahir: Sidoarjo, Jawa Timur, 1 Mei 1961

·      Pendidikan :

Ø 1985 : Sarjana Teknik, FTI Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Ø 1991 : Master of Engineering, Katalisis, Tokyo Institut of Technology (TIT), Tokyo, Jepang.

Ø 2000 : Doktor, Katalisis Heterogen, FMIPA Universitas Indonesia.

 

Foto : ET
Penulis : Indah Sari Dewi 

 

Share/Save/Bookmark

Comments  

 
0 #2 mohammad.nasikin 2012-07-19 02:02
Pak Slamet ysh, terimakasih atas perhatian dan pertanyaannya. pengetahuan tentang energi secara teori maupun praktis sebaiknya dikenalkan kepada peserta didik dari sejak dini. Murid SMP sangat perlu dikenalkan tentang energi diajak diskusi dan diberi kesempatan berkreasi terkait dengan pelestarian energi. kita ingat bahwa dijaman Jepang, masyarakat diminta menanam jarak untuk sumber energi. Hal semacam ini yang bisa secara praktis menjadi salah satu contoh untuk mengenalkan kepada anal didik tentang energi. demikian terimakasih
Quote
 
 
0 #1 Selamet 2012-07-17 11:37
Salam kenal Prof. Nasikin,
Saya sangat tertarik dengan pengalaman Bapak. Sekolah kami sedang membangun SMP baru. Dapatkah ilmu "energi" diterapkan pada siswa SMP sejak awal (kelas VII).
Mohon petunjuk praktis Pak supaya kami dapat sejak dini memperkenalkan ilmu modern pada anak didik kami.
Terima kasih.
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh