Saturday, November 01, 2014
   
Text Size

DR. Ir. GM Tampubolon

DR. Ir. GM Tampubolon merupakan putra Batak yang lahir di Padang, pada tanggal 14 Mei 1933. Beliau adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara pasangan Calvijn Bismarck (CB) Tampubolon gelar Ompu Boksa II (meninggal tahun 1989 dalam usia 91 tahun) dan Agustina br. Pardede (meninggal setahun kemudian, tahun 1990 dalam usia 89 tahun).

Tampubolon meninggalkan kota Padang saat mulai kuliah di ITB Bandung jurusan Mesin, dan dalam masa perkuliahan itulah dia bertemu dan menikah dengan Tiara br. Siregar. Pasangan ini dikaruniai dua orang putra dan tiga putri serta sembilan orang cucu.

Pada usia 30-an tahun, beliau telah dipercaya menjadi direksi PN Gaya Motor, sebuah perusahaan otomotif patungan antara pemerintah dan swasta. Disana beliau bekerja sebagai teknokrat atau pemikir yang tidak pernah berhenti menggagas ide, pemikiran, dan jasa pengabdian sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat.

Di awal republik ini berdiri hingga dicetuskannya PII pada 23 Mei 1952 di Kota Bandung, oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja dan kawan-kawan, jumlah insinyur masih mudah dihitung sebab tak lebih dari 52 orang. Padahal, kemerdekaan harus segera diisi dengan berbagai pembangunan fisik dan non fisik untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yaitu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Pada tahun 1958, GM Tampubolon bersama kawan-kawan dia disuruh membangun sekaligus menentukan cetak biru organisasi para insinyur tersebut. Mereka lalu membentuk pengurus pusat dan mulai meletakkan dasar-dasar administrasi. Tidak lama kemudian, pada tahun 1963 Tampubolon mulai diangkat menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen). Pada kongres yang kesekian di tahun 1969, di Parapat, Sumatera Utara, Tampubolon terpilih menjadi ketua umum yang kelima setelah Ir. H. Djuanda Kartawidjaja (1952 – 1954), Ir. Kaslan Tohir (1954-1959), Ir. Umar Bratakusuma (1959 – 1961), dan Ir. Suratman Dharmaperwira (1965-1969). Teknokrat bernama lengkap DR. Ir. Godefridus Mangaradja Tampubolon ini menjabat Ketua Umum PII tergolong lama, 15 tahun, antara 1969 – 1984.

Untuk tetap menjaga kiprahnya mengisi pembangunan selepas ketua umum dari PII di tahun 1985 Tampubolon bersama kawan-kawannya kembali membentuk sebuah organisasi profesi baru yang cakupannya lebih luas, yaitu Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI). Organisasi inilah yang di tahun 1999 menghantarkannya ke keanggotaan MPR RI mewakili utusan golongan para ahli teknik dari segala strata pendidikan dan keahlian yang jumlahnya sekitar 15,3 juta orang. 

Pada tahun 1985, Tampubolon bersama kawan-kawannya antara lain Prof. B.J. Habibie, Ir. Hartarto, Ir. Erna Witoelar, Ir. Humuntar Lumbangaol dan lain-lain mendirikan Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI), sekaligus sebagai ketuanya. YPTI adalah pemilik dan pengasuh Institut Teknologi Indoneisa (ITI), berlokasi di Serpong, Tangerang, Banten.

ITI adalah sebuah perguruan tinggi keteknikan swasta terkemuka dan modern di tanah air. Pada tahun 1985, peraih gelar doktor kehormatan honoris causa dari Perguruan Tinggi Heidelberg ini pernah diangkat sebagai Wakil Rektor/Dekan Institut Teknologi Indonesia.

Tampubolon juga merupakan pendiri sekaligus Ketua Dewan Direksi Center for Technology and Industry Development (CTID), sebuah institusi nirlaba yang secara khusus bekerja mengkaji dan mendalami pengembangan teknologi dan industri di tanah air. Beliau juga pernah dipercaya sebagai Ketua Komisi V DPR yang membidangi pembangunan sarana dan prasarana pembangunan seperti transportasi, pelabuhan, telekomunikasi, energi, perumahan rakyat, pariwisata, pos, pekerjaan umum, dan lain-lain. 

Sebagai tokoh organisasi insinyur kaliber dunia beliau juga berkiprah sebagai Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur ASEAN (AFEO) pada tahun 1981-1982, Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Asia Pasifik (FEISEAP) tahun 1982-1984, hingga ke tingkat dunia sebagai Anggota Perngurus/ Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia (WFEO) tahun 1975-1993.

Pada tahun 1995 beliau memperoleh Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama, berdasarkan Keppres R.I. Nomor 063/TK/Tahun 1985 dari Pemerintah RI, yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto. Dua tahun kemudian G.M. Tampubolon akhirnya memperoleh penghargaan tertinggi sebagai putra terbaik bangsa, yaitu Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama berdasarkan Keppres R.I. Nomor 073/TK/Tahun 1987. Penghargaan ini disematkan oleh Presiden Soeharto di Istana Negara, Jakarta.

Dari sebuah gedung GMT Building miliknya di Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan, Tampubolon sehari-hari mengendalikan grup usahanya bernama GMT Group. Perusahaan yang masuk dalam grup itu, selain yang sudah disebut di atas antara lain adalah PT Inti Karya Persada Tehnik (IKPT), PT Godi Maran Tiara, PT Gofri Megah Tiara, PT Kujang Tiara Lapi, PT Inti Era Cipta, PT Dharma Yasamas Teknindo, PT Rakintam Nusa, PT Asianenco Consult, dan lain-lain.

Dengan bendera GMT Group di tangan, Tampubolon bekerjasama dengan Shimizu Corp. sebuah kontraktor multinasional asal Jepang untuk membentuk PT Dextam Contractor. Dextam adalah perusahaan kontraktor yang sudah menorehkan banyak catatan emas membangun gedung-gedung bertingkat di Jakarta. Demikian pula dengan Kinden Corp dari Jepang, sejak 12 September 1974 beliau membentuk PT Rakintam sebagai perusahaan kontraktor mekanikal dan elektrikal. Di perusahaan penangkapan ikan PT Toyo Fishing Corp. (Tofico) berbasis di Indonesia Bagian Timur dia bermitra dengan Seven Ocean Corp dari Jepang.

 

Share/Save/Bookmark

Add comment


Security code
Refresh