Saturday, April 19, 2014
   
Text Size

Pesan Elektrik Pengganti Kertas

Kamis, 20 Oktober 2011

RISTEK.go.id - Tabung karton bekas wadah camilan kentang goreng instan diubah oleh Dini Esfandiari dan Shofi Delaila Herdi, dua siswa SMA Semesta Semarang, Jawa Tengah, menjadi kemasan untuk alat minimulticommander atau MMC. Inilah alat pesan elektrik yang menggantikan kertas pesan menu di meja-meja rumah makan untuk penghematan kertas.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memenangkan MMC sebagai karya inovasi remaja dalam kontes National Young Inventor Awards (NYIA) ke-4 pada 4 Oktober 2011. Berikutnya, karya ilmiah remaja ini akan disertakan dalam kompetisi internasional di Bangkok, Thailand, Januari 2012.

”Masih banyak fungsi lainnya. MMC bisa juga digunakan oleh seorang ibu untuk meninggalkan pesan lisan kepada anaknya yang masih balita, atau bisa untuk alarm dengan suara rekaman sesuai pesan yang diinginkan,” kata Dini.

MMC, selain mengurangi sampah kertas, juga membuat pelayan rumah makan tidak perlu menunggu saat pelanggan memesan. MMC disertai lampu indikator ketika pesanan sudah selesai, kemudian pelayan menyambutnya untuk dibawa ke juru masak rumah makan.

Cara kerjanya, komposisi tabung diatur pada bagian atas untuk merekam suara pemesan. Kedua sisi dilengkapi penutup yang sewaktu-waktu bisa dibuka.

Untuk memasukkan rekaman pesanan, tutup bagian atas dibuka. Saat suara diterima, terdapat empat lampu LED yang akan menyala.

Indikator lampu itu untuk menandakan pesan suara terekam. Dini dan Shofi menggunakan sirkuit IC ISD 2560/120, yang berarti kapasitas rekaman bisa untuk durasi 120 detik.

”Untuk meningkatkan durasi rekaman, diganti saja komponen ini sehingga memiliki kapasitas lebih besar,” kata Dini.

Ada layar LCD yang dipasang untuk memonitor kinerja alat ini. Menurut Dini, LCD inilah komponen termahal.

”Biaya yang dipakai untuk menghasilkan satu alat ini berkisar Rp 300.000 sampai Rp 400.000,” kata dia.

Selanjutnya, penerima pesan atau koki rumah makan dapat membuka tutup tabung bagian bawah untuk mendengar menu apa saja yang dipesan pelanggan.

Survei restoran
Dini menceritakan, ide awal pembuatan MMC berawal dari penugasan guru mata pelajaran Biologi pada pertengahan tahun 2010. Ketika itu, Dini dan Shofi yang duduk di kelas II mendapat tugas survei ke restoran-restoran untuk mengetahui pengeluaran biaya untuk belanja kertas pesan menu makan.

”Ada tiga rumah makan besar yang kami survei itu harus mengeluarkan Rp 700.000 sampai Rp 1 juta setiap bulan, hanya untuk belanja kertas pesan,” kata Dini.

Dengan menggunakan MMC, penghematan kertas bisa dilakukan. MMC bisa bertahan bertahun-tahun. Apabila terjadi kerusakan, komponen yang mengalami kerusakan pun dapat diganti.

Singkat cerita, setelah tugas membuat survei penggunaan kertas di restoran selesai, mereka masih memikirkan solusi untuk penghematan biaya pengadaan kertas tersebut. MMC merupakan buah inisiatif mereka.

”Pada bulan November 2010 hingga Januari 2011, kami sempat mengikuti studi pertukaran pelajar ke Turki. Sepulang dari Turki inilah kami merealisasikan MMC,” kata Dini.

MMC kemudian dirancang atas bimbingan salah seorang guru, yang juga menghubungkan ke Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Semarang, untuk pemanfaatan laboratorium elektronika. Menurut Dini, realisasi gagasan tidak bisa langsung tercipta menjadi MMC seperti sekarang.

Uji coba berkali-kali dibuat Dini dan Shofi. Dalam berbagai percobaan, mahasiswa teknik elektro di universitas tersebut juga turut membantu.

Berbagai komponen yang digunakan, selain sirkuit IC dan layar monitor LCD, juga mencakup mikrokontroler ATmega32. Mikrokontroler ini sebagai otak MMC secara keseluruhan. Kemudian, masih dilengkapi mikrofon dan tabung suara beserta lampu-lampu LED sebagai indikator proses yang sedang berlangsung.

Sumber energi listrik yang digunakan berupa baterai berkapasitas 9 volt. Menurut Dini, alat semacam ini diketahui belum pernah ada.

”Pada intinya, kami ingin turut serta berperan dalam mengatasi persoalan pemanasan global dengan mengurangi penebangan hutan untuk memproduksi kertas,” kata Dini.

Melihat fungsi MMC yang bisa untuk alarm, berarti bisa juga menunjuk waktu. Masyarakat awam bisa menggunakannya.

”Suara alarm yang digunakan juga bisa diambilkan dari suara hasil rekaman kita yang disesuaikan dengan kebutuhan pengingat atau jadwal. Misalnya, ketika jam tertentu kita harus bangun tidur bisa diberi pesan ’bangun...bangun...bangun’, dan alarm itu bisa disetel untuk mengeluarkan bunyi rekaman itu,” kata Dini.

Hasil karya dua siswa sekolah menengah atas, Dini dan Shofi, ini memberikan fakta kemampuan berinovasi yang tinggi yang dimulai sejak dini. Di bidang lainnya, tentu membutuhkan inovasi-inovasi serupa yang menyesuaikan tingkat kebutuhan masing-masing. (Kompas, 21 OKtober 2011/ humasristek)

Foto/ilustrasi: KOMPAS
Sumber:



Share/Save/Bookmark

Add comment


Security code
Refresh