Friday, November 28, 2014
   
Text Size

Rompi Pijat Praktis Buatan Mahasiswa UGM

Selasa, 11 Juni 2013

rompi-pijatMahasiwa UGM mendesain rompi pijat praktis. Rompi bahan parasit tersebut memiliki delapan unit pijat (trigger point) getaran mekanis. Masing-masing unit pijat dilengkapi enam titik infra merah untuk relaksasi otot punggung. Untuk mengatur tingkat kecepatan getaran hingga 900 rpm bisa diatur lewat unit kontrol yang dipasang pada kantong depan rompi. “Berat rompi sekitar 1 kilogram menggunakan baterai litium 9,7 volt.” kata  mahasiswa Teknik Mesin UGM angkatan 2010 Aris Prayitno, Jumat (7/6). 

Aris menceritakan, rompi pijat ini memadukan ilmu teknik, sains dan kedokteran untuk menghasilkan produk kesehatan portabel yang dirancang mengatasi pegal linu secara praktis. Selain nyaman, rompi pijat ini tidak memakan waktu lama dalam mengoperasikannya.  “Bisa dipakai hingga 20-30 menit,” kata Aris. 

Aris menceritakan, ia membutuhkan waktu  4 bulan untuk mengembangkan rompi pijat  ini. Saat awal proses pembuatan, ia sempat kesulitan mencari motor getar untuk dipasang di rompi. Beruntung ia punya ide menggunakan motor berbandul dari stick playstation bekas. Sedangkan unit pijat, ia  menggunakan keset pijat refleksi. “Sebelum jadi, saya sudah  empat kali gagal, trial and error,” ungkapnya. 

Selain praktis dan bisa dibawa ke mana-mana. Rompi yang dibuat dengan biaya Rp 2 juta ini diakuinya memiliki tingkat  keamanan yang baik. Pasalnya, rompi menggunakan arus DC dengan baterai 9,7 Volt. “Kita sudah konsutasi dengan dosen, tidak menimbul setrum,” ujarnya. 

Selain Aris, desain rompi pijat ini juga melibatkan dua mahasiswa dari Fakultas Kedokteran, yakni Syifa Salma dan Hilma Tsurayya, dan satu orang mahasiswa prodi D3 Elektronika dan Instrumentasi, Sekolah Vokasi, Agus Budiman.

Syifa Salma menuturkan, penentuan titik lokasi pemasangan unit pijat tidak dilakukan sembarang namun berdasarkan hasil anatomi letak posisi saraf, otot dan pembuluh darah di daerah punggung,”Jadi pemilihan lokasinya dijadikan sebagai titik refleksi,” katanya. 

Sedangkan keberadaan sinar infra merah menimbulkan rasa hangat sehingga bisa melenturkan jaringan kolagen kulit. Disamping memicu Hormon endorphin yang mampu mengurangi rasa nyeri. “Nyeri di punggung akibat akibat pengumpulan asam laktat, bila asam laktat terurai, rasa nyeri berkurang,” katanya. (ugm.ac.id/ humasristek)

Source : 

 

Share/Save/Bookmark

Add comment


Security code
Refresh