Selasa, 21 Februari 2012
JAKARTA, InfoPublik
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
(BPPT) telah mengembangkan teknologi kompor tekan multifuel dengan bahan bakar minyak jelantah.
“Inovasi tersebut merupakan bagian dari karya program insentif peningkatan kemampuan peneliti dan perekayasa (PKPP) tahun 2011 yang dikoordinasikan oleh Kementerian Riset dan Teknologi,” kata Asisten Deputi Iptek Masyarakat, Kemenristek, Sadiyatmo, pada sosialisasi kompor tekan multifuel berbahan bakar minyak jelantah di Bekasi, Selasa (21/2).
Menurutnya, penggunaan minyak jelantah sebagai bahan bakar adalah sebuah solusi alternatif yang berdampak positif, karena apabila dibuang begitu saja dapat berpolusi atau mengotori lingkungan, sementara jika digunakan untuk memasak kembali dapat menyebabkan kanker akibat kandungan yang tinggi dari senyawa polimer, aldehid, asam lemak, serta lakton.
Rasa antusias, semangat, ketertarikan, keinginan untuk membeli dan menggunakan kompor tekan berbahan bakar minyak jelantah untuk menggoreng dan memasak secara higienis juga menarik konsumen lain seperti pemilik rumah makan cepat saji.
Inovasi ini merupakan wujud kinerja BPPT memberikan solusi terhadap masalah yang tejadi di masyarakat melalui teknologi tepat guna bagi masyarakat dengan mengembangkan kompor tekan multifuel tersebut.
Kompor tekan multifuel memiliki keunggulan teknologi, ekonomi, dan kesehatan. Di samping itu, kompor tersebut juga lebih praktis digunakan, suhu nyala api cukup tinggi di atas 12000C, dan dapat digunakan untuk bermacam-macam minyak nabati, seperti CPO/minyak kelapa sawit, minyak jarak, dan lain-lain tanpa perlu modifikasi tambahan.
“Secara ekonomi dengan pengembangan kompor tekan multifuel ini, minyak jelantah memiliki manfaat alternatif sebagai bahan bakar yang memiliki nilai ekonomis yang dapat menghemat bahan bakar secara signifikan dengan harga perliternya yang cukup murah.
Keunggulan lainnya, kompor tersebut didesain sesederhana mungkin agar harganya terjangkau oleh masyarakat. Dari segi kesehatan, dengan adanya kompor ini pola perilaku masyarakat, dalam hal ini penjual gorengan juga dapat berubah, yang tadinya memakai minyak goreng dalam memasak secara berulang kali, sehingga menurunkan kualitas dan higienis makanan, dengan kompor ini memiliki alternatif yang jauh lebih sehat.
Disamping itu, potensi ketersediaan minyak jelantahpun cukup besar jika dapat dilakukan kerjasama dengan industri makanan dan rumah makan cepat saji untuk memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar. (Oleh G. Suranto)/(rm)
Event
-
Olimpiyade Karya Tulis Ilmiah (OKTI) 2012 Olimpiade Karya Tulis Ilmiah (OKTI) SMA/MA se-Indonesia ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan...
-
PRC2012, Lomba Robot 2012 Kategori Lomba Maze Solving Robot Suatu kategori lomba dimana tim membuat program pengendalian...
-
Lomba Robot Line Follower Tingkat SMA 2012 se Jawa-Bali Line Follower Contest atau sering disebut Kompetisi Robot Penjejak Garis, adalah sebuah kompetisi...
- 1
- 2
- 3


