Google
Web Teachers

Modal Sosial dan Difusi Teknologi

Oleh: M Athar Ismail Muzakir
Staf Kedeputian Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek

RISTEK.go.id - Pada 2010, Business Inovation Centre (BIC) telah memublikasikan 102 inovasi yang dinilai paling prospektif. Semua karya itu merupakan karya terbaik dari para pelaku inovasi di Tanah Air. Namun, semua itu belum bisa mengakomodasi beberapa indikator difusi teknologi.

Buku Indikator Ekonomi Berbasis Pengetahuan Indonesia terbitan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek: 2009) menyebutkan Indonesia menduduk posisi juru kunci dalam daya serap teknologi di tingkat perusahaan, yakni sebesar 4,67% pada periode 2006-2008.

Selama periode 2006-2007, rata-rata ekspor teknologi tinggi sebagai persentase ekspor manufaktur, Indonesia hanya menduduki peringkat kedua dari bawah, yaitu 14,3%.

Begitu juga dengan total faktor produktivitas berdasarkan survei Asian Productivity Organization pada 2007 sebagaimana dilaporkan Bank Indonesia, hanya 1,38%. Ketiga parameter itulah paling tidak menunjukkan daya serap teknologi dalam suatu sistem sosial dan dalam konteks sistem inovasi nasional masih sangat rendah.

Rapuhnya Modal Sosial
Apa yang menyebabkan kurangnya difusi teknologi di masyarakat? Menurut hemat penulis, salah satu faktor inti kurang berhasilnya proses difusi teknologi adalah masih lemahnya modal sosial baik dalam tatanan sistem sosial secara keseluruhan maupun dalam konteks yang lebih khusus, yaitu sistem inovasi nasional.

Berdasarkan data dan fenomena yang ada seperti rendahnya kolaborasi riset universitas dengan perusahaan, komposisi anggaran litbang pemerintah dengan industri, maupun koordinasi dan advokasi hasil riset masih lemah. Fenomena-fenomena seperti penegakan hukum yang lemah, semakin lunturnya nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong, kekeluargaan, musyawarah untuk mufakat, dan tepa selira (toleransi) juga terus mengikis.

Semua data dan fenomena tersebut semakin menegaskan betapa rapuhnya modal sosial bangsa kita. Lemahnya modal sosial akan berpotensi menghambat jalannya suatu sistem sosial termasuk sistem inovasi nasional.

Sebagai dampak sistemis, mekanisme dan proses difusi sebagai bagian dari sistem inovasi juga tidak akan berjalan dengan baik karena modal sosial ibarat oli yang membuat gesekan antarkomponen di dalam mesin bergerak lebih halus. Tanpa oli yang baik, mesin dan semua komponen di dalamnya tidak akan bekerja dengan baik.

Kegagalan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) serta masih mencuatnya fenomena penolakan sebagian masyarakat terhadap pembangunan PLTN adalah di antara contoh yang membuktikan rapuhnya modal sosial telah menyebabkan penolakan suatu teknologi walaupun secara ilmiah teknologi tersebut terbukti lebih unggul di antara teknologi yang telah ada pada saat itu.

Penerimaan inovasi atau teknologi di dalam masyarakat paling tidak dipengaruhi tiga faktor, yaitu struktur sosial, norma sistem, dan pemimpin serta agen perubahan. Oleh karena itu, keputusan difusi teknologi harus mempertimbangkan keselarasannya dengan tiga faktor tersebut. Keselarasan hubungan di antara tiga faktor tersebut merupakan modal sosial yang sangat penting bagi keberhasilan suatu proses difusi teknologi.

Salah satu contoh negara yang dianggap memiliki modal yang sosial yang cukup kuat serta berhasil dalam hal difusi teknologi adalah Korea Selatan. Semua orang yang pernah mengunjungi Korea Selatan akan melihat betapa masyarakat Korea dari semua level strata sosial, dari pejabat, pelaku bisnis, sampai ke masyarakat biasa, taat dan tunduk pada satu kebijakan pemerintah untuk menggunakan produk kendaraan bermotor karya anak negeri.

Keberhasilan Korea dalam proses difusi teknologi disebabkan kuatnya modal sosial yang melekat pada sistem sosial mereka. Faktor-faktor seperti kepemimpinan, akulturasi budaya dengan nilai-nilai ajaran Konfusianisme, dan ajaran Buddhisme menjadi fondasi di dalam struktur sosial masyarakat Korea. Bahkan komitmen pemerintah untuk membangun karakter masyarakat yang berlandaskan pada nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan perkembangan zaman telah dirumuskan menjadi salah satu tujuan pendidikan nasional di Korea Selatan.

Memperkuat Modal Sosial
Jika menengok pengalaman Korea, ada dua upaya untuk memperkukuh modal sosial bagi proses difusi teknologi, yaitu melalui - pertama--instrumen pelayanan pendidikan.

Instrumen tersebut selain untuk merevitalisasi modal sosial yang merupakan kearifan lokal, seperti gotong royong, kekeluargaan, musyawarah untuk mufakat, dan tepa selira (toleransi), juga untuk memperkuat good governance dan trust di antara negara dan warga negara. Kepercayaan yang terbangun antarnegara dan warga merupakan iklim yang kondusif bagi proses difusi teknologi.

Kedua, akulturasi budaya dengan nilai-nilai kekinian dengan tetap mempertahankan khazanah nilai-nilai kearifan lokal atau modal sosial. Akulturasi budaya sangat penting untuk menghindari terjadinya resistensi atau sikap alergi yang tidak tepat terhadap suatu hasil inovasi teknologi.

Paling tidak dengan dua langkah tersebut, porsi antara teknologi yang diberdayagunakan terhadap teknologi yang dihasilkan ke depan lambat laun semakin meningkat. Semoga. (Media Indonesia, 16 Maret 2011/ humasristek)

Rabu, 16 Maret 2011

Sumber:

 

Add comment


Security code
Refresh